DI PERUMAHAN
GRIYA PRAJA MUKTI
Desa Kalisapu Kec.
Slawi, Kab. Tegal
Di
susun oleh :
Ulfa Rizki Fitriyani
PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL
DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA
UPTD SMA NEGERI 3 SLAWI
RINTISAN SEKOLAH
BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
Jalan Prof. Moh.
Yamin Slawi Telp. (0283) 491152
Tahun
Pelajaran 2011/1012
Motto
Empat jenis
mausia kutipan Buton, Lady :
1. Orang
yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa ia tidak tahu ia adalah orang yang bersahaja
- ajarilah dia.
2. Orang
yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu ; ia adalah orang tolol –
jauhilah dia.
3. Orang
yang tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia
tahu ; orang itu tidur – bangukalah dia.
4. Orang
yang tahu, dan ia tahu bahwa ia tahu ; orang itu adalah bijaksana – tirulah
dia.
PERSEMBAHAN
Karya
sederhana ini kami persembahkan untuk :
1. Kedua
orang tua kami
2. Kepala
Sekolah
3. Guru
pendamping
4. Siswa-siswi
SMA N 3 Slawi
KATA
PENGANTAR
Laporan
mengeai proses pembuatan tempe akirnya selesai juga kami kerjakan. Dan hal itu
tidak akan lepas dari izin Tuhan Yang aha Esa. Kami sebagai peulis, mengucapkan
puji syukur atas Kehadirat-nya, dan semoga apa yang kami lakukan kali ini
edapat ridho-nya.
Materi
yang kami peroleh untuk penyusunan laporan ini memang sedikit, dan kami sadari
itu. Tapi alhamdulillah kami cukup tidak mengalai kesulitan. Karenanya kami
terus berusaha untuk mencari materi yang dapat kami masukkan untuk memperlengkap
laporan yang kami buat.
Kami
sebagai penulis berharap, bahwa terciptanya laporan tentang pembuatan tempe ini,
dapat memberikan manfaat banyak bagi pembaca.
Pada
akhirnya kepada guru kailah, kami menaruh harapan agar terus membibing kami. Dan
kami sebagai manusia biasa, pasti tisak lepas dari kekhilafan. Oleh karenanya,
kami sangat megharapkan saran dan kritik yang membagun dari guru pembibing dan
rekan - rekan sejawat agar kami dapat meningkatkan kwalitas laporan ini di masa
mendatang.
Slawi, April 2012
penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
MOTTO .................................................................................................. ii
PERSEMBAHAN .............................................................................. iii
KATA PENGANTAR.............................................................................. iv
DAFTAR ISI .......................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1
A.. Latar Belakang Penelitian................................................. 1
B.. Tujuan
Penelitian............................................................... 2
C.. Manfaat Penulisan ............................................................ 2
D.. Metodelogi Penulisan ....................................................... 3
a... Tempat ........................................................................ 4
b... Waktu ......................................................................... 4
F.. Tahap-Tahap Penelitian ..................................................... 4
G.. Sistematika Penulisan ....................................................... 4
BAB II MODAL
PEMBUATAN TEMPE............................................ 6
A.. Modal Perhari.................................................................... 6
C. Alat yang diperlukan.............................................................. 7
BAB III PELAKSANAAN
PEMBUATAN YEMPE............................ 9
A.
Proses
Pemilihan bahan yang baik.................................... 9
B.
Proses
Pembuatan.............................................................. 11
C.
Proses
Pengemasan.............................................................. 15
D.
Daerah
Pemasaran................................................................ 15
E.
Laba
yang diperoleh............................................................ 16
BAB IV GIZI YANG TERKANDUNG DALAM TEMPE
BAB V PENUTUP ............................................................................. 19
A.. Simpulan ........................................................................... 19
B.. Saran-Saran ...................................................................... 20
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Penelitian
Pada
kesempatan ini, kami mendapat tugas dari guru pembimbing untuk membuat laporan
tentang industri kecil atau industri rumah tangga. Akhirnya kami sepakat
memilih materi laporan ini yaitu tentang Proses Pembuatan Tempe. Latar Belakang
kami memilih materi ini yaitu karena yang ada disekitar lingkungan kami dan
mudah untuk dibahas untuk kelengkapan laporan ini.
Kami berhasil mengekspos sosok pengusaha rumah tangga
yang bertempat tinggal di Griya Praja Mukti. Dia adalah ibu , usaha pembuatan
tempe oleh ibu ini pada awalnya dilakukan hanya sebagai pekerjaan sambilan yang
sehari-harinya adalah ibu rumah tangga.
Pada awal Desember tahun 2004, usaha inilah mulai
ditekuni oleh ibu . uasah ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen,
khususnya di komplek perumahan Griya Praja Mukti. Mulanya bu hanya membuat
tempe hanya dengan modal 2 kg kedelai perhari, yang hasilnya disalurkan pada
penjual keliling dan warung-warung yang berada di kawasan perumahan Griya Praja
Mukti. Namun pada tahun 2006 permintaan tempe kian hari kian bertambah. Pada
akhirnya pembuatan tempe ini di tingkatkan dan mulai berkembang sedikit demi
sedikit. Dan sampai sekarang pembuatan tempe tersebut dapat mencapai 10 kg
perharinya.
B.
Tujuan Penelitia
Tujuan dari laporan
penelitian tentang proses pembuatan tempe yaitu :
1. Untuk
mengetahui secara menyeluruh proses pembuatan tempe pada industri rumah tangga
yang masih menggunakanalat-alat yang sangat sederhana.
2. Untuk
mengetahui tanggapan dari masyarakat yang setiap harinya mengkonsumsi tempe.
3. Untuk
mempermudah bagi mereka-mereka yang berminat untuk mendirikan industry rumah
tangga yang menspesialisasikan pembuatan tempe.
C.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh
dari laporan penelitian ini yaitu :
1. Untuk
memperdalam danmengembangkan ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya terutama
dalam bidang pembuatan makanan tradisional.
2. Untuk
menambah wawasan cakrawala kita, mengenai keberadaan temped an gizi yang
terkandung didalamnya sebagai makanan yang dikonsumsi oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia.
D. Metodelogi
Penelitian
1. Lokasi
Penelitian
Penelitian
tentang pembuatan tempe ini mengambil lokasi di Desa KAlisapu, tepatnya di
Griya Praja Mukti, Kec. Slawi, Kab. Tegal.
2. Jenis
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yang bermaksud untuk
mengetahui cara pembuatan tempe pada industry rumah tangga yang tergolong masih
sangat sederhana. Bentuk penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi
yang bersifat kualitatif dengan deskripsi.
3. Sumber
data
Data yang kami
peroleh untuk melengkapi penelitian kami bersifat primer, karena kami langsung
mendatangi pihak yang bersangutan yaitu pihak yang memiliki industry rumah
tangga.
E. Pelaksanaan Penelitian
a. Tempat :
b .Waktu :
F. Hasil
Yang Diperoleh
Seperti
yang kami dapatkan sekarang sebuah laporan yang berjudul “Proses Pembuatan
Tempe” yang dihasilkan dari wawancara dan penelitian yang kami lakukan untuk
menghasilkan laporan ini berkenan di hati guru pembimbing dan rekan-rekan
sejawat.
BAB II
MODAL PEMBUATAN
TEMPE
A. Modal
perhari
Dalam
pembuatan laporan ini, kami mengambil industry rumah tangga. Yang dihasilkan
dari idustri tersebut disalurkan ke warung-warung pedagang keliling dan
wilayahnya tidak begitu luas, jadi modal yang dipakai tidak terlalu banyak.
Menurut sumber yang kami peroleh modal yang diperlukan Ibu untuk memproduksi
tempe yaitu kurang lebih Rp.
B. Bahan
Yang Diperlukan
Dalam pembuatan tempe
memerlukan bahan-bahan sebagai berikut :
1. Kedelai,
dalam pengamatan kami menyesuaikan yang dibuat oleh Ibu sebagai produsen.
Setiap harinya Ibu memerlukan 50 kg kedelai yang harga per-kg nya kira-kira Rp.
. jadi Ibu setiap harinya mengeluarkan uang untuk pembelian kedelai
sebesar Rp.
2. Ragi,
setiap 1 bungkus ragi tempe dapat digunakan untuk 5 kg kedelai dan 1 bungkus
ragi tempe kurang lebih seharga Rp. . jadi Ibu setiap harinya mengeluarkan uang
sebesar Rp. Untuk pembelian ragi.
3. Plastic
berukuaran ½ kg atau bisa juga dengan ukuran yang lebih besar, tergantung
keinginan. Dalam pembungkusan, bu menggunakan plastic, karena menurutnya lebih
praktis dan bersih. Selain itu juga sekarang ini daun pisang sulit untuk
didapat dan harganya mahal. Untuk setiap harinya Ibu memerlukan 200 lembar
plastic untuk 10 kg kedelai. Sebelum pembungkusan terlebih dahulu plastic di
lubangi agar udara dapat berkembang dengan baik.
C. Alat-Alat
Yang Diperlukan
Dalam pembuatan tempe
diperlukan alat-alat sebagai berikut :
1. Kompor
gas, digunakan merebus kedelai sampai setengah matang.
2. Dandang
digunakan sebagai tempat untuk merebus kedelai sampai setengah matang. Dalam
hal ini Ibu menggunakan dandang yang besar sehingga cukup untuk merebus kedelai
yang 10 kg tersebut.
3. Cepon
besar, digunakan untuk menuntaskan kedelai setelah direbus dan setelah tuntas
juga digunakan untuk mencampur ragi.
4. Ember,
digunakan untuk mencuci kedelai agar benar-benar bersih setelah ditampih.
5. Tampah
kecil, digunakan untuk menempih agar kulit-kulit atau kotoran lainnya yang
masih tertinggal hilang dan kedelai menjadi bersih.
6. Rak,
digunakan untuk menempatkan kedelai yang sudah diberi ragi setelah itu
dibungkus.
BAB III
PELAKSANAAN
PEMBUATAN TEMPE
A. Proses
Pemilihan Bahan
Bahan-bahan
pembuat tempe sangat menentukan mutu dar
tempe tersebut. Untuk memperoleh hasil tempe yang enak tentunya diperlukan
kedelai yang baik. Apabila dalam pembuatannya tidak memperhatikan bahan-bahan
yang diperlukan, maka jangan berharap untuk hasil yang memuaskan. Sebab mutu
bahan yang baik akan mempengaruhi tempe dan secara tidak langsung akan
mempengaruhi laba yang akan diperoleh.
Untuk mendapatkan kedelai yang baik dapat diketahui dari
cirri fisiknya, antara lain yaitu kulit kedelai tersebut bersih, biasanya
mengkilap, tidak keropos, tidak berwarna hitam atau busuk. Karena itu juga
mempengaruhi rasa dan kwalitasnya. Biasanya untuk memisahakan kedelai dengan
kotorannya yaiti dengan ditampi. Kemudian kotoran yang sudah hilang dapat
diambil. Dengan pembersihan ini maka hasil yang diperoleh akan jauh lebih baik.
Agar lebih diketahui di wilayah Tegal ini pembuatan tempe
menggunakan kedelai yang kulitnya berwarna merah tua atau coklat.
B. Proses
Pembuatan
Setelah
mengalami tahap pemilihan yang baik, kemudian baru memasuki tahap pencucian.
Yaitu kedelai biasanya ditaruh pada baskom besar laludicuci sambil mengambil
kotoran-kotoran dari kedelai yang mengapung.
Tahap
berikutnya yaitu tahap perebusan. Setelah dicuci sampai bersih, kemudian c itu
di tamping pada panic atau dandang dan kemudian direbus kurang lebih 2,5 jam
(waktu perebusan juga disesuaikan dengan jumlah kedelai yang akan direbus,
waktu 2,5 jam itu untuk 8-10 kg kedelai). Hara[p diperhatikan dalam perebusan
ini, jangan sampai kedelai terlalu matang, karena nanti tidak akan jadi kalau
dibuat tempe.
Selanjutnya
pada tahap perebusan, kedelai yang setengah matang itu kemudian direndam dalm
air selama satu malam. Ini berfungsi agar kulit yang masih melekat pada kedelai
bisa lepas. Setelah direndam, lalu pada pagi harinya dicuci lagi sampai bersih
dari kulit kedelai dan kemudian ditiriskan selama satu hari. Pada sore harinya
kedelai yang sudah bersih dari kulitnya itu selanjutnya diberi ragi tempe
sambil ditampi supaya ragi merata. Dan setelah selesai tahap peragian, kedelai
siap untuk memasuki tahap pembungkusan.
C. Proses
Pengemasan
Setelah
mengalami berbagai macam tahap pembuatan tempe, maka kini saatnya memasuki
tahap yang terakhir, yaitu tahap pembungkusan.
Dalam pembungkusan tempe, dapat digunakan
berbagai macam cara atau bahan. Misalkan dengan daun pisang, tetapi saat ini terutama
di kota-kota besar jarang sekali ditemukan jenis tempe yang di bungkus dengan
daun pisang, karena sakarang ini sulit dadapat.
Sumbar
yang telah kami datangi menggunakan plastik untuk membungkus tempe buatannya.
Sebelum kedelai yang suadah biberi ragi itu dimasukkan ke dalam plastik,
terlebih dahulu plastiknnya di lubangi agar udara dapat berkembang dengan baik.
D. Daerah
Pemasaran
Usaha
yang dimulai pada akhir desemmber 2004 hingga sekarang ini masih ditekuni oleh Ibu
. usaha ini awalnya hanya di lingkungan komplek Perumahan Griya Praja Mukti
saja, lalu dapat berkembang dan disalurkan sampai ke warung- warung di sekitar
wilayah Perumahan Griya Praja Mukti. Kendati dengan adanya permintaan tempe di
warung-warung kecil meningkat, sehingga tiap harinya kedelai yang di butuhakan
bertambah. Penambahan jumlah kedelai ini juga cukup banyak, yaitu dapat
mencapai 10 kg perharinya.
Sementara
itu dalam penjualannya, Ibu yang dibantu suaminya setiap sore mengantarkan
tempe-tempe setengah jadi ke warung- warung kecil dan rumah makan. Sedangkan
pada kantin dan pedagang keliling di ambil tempe yang di buat ini juga habis
dalam satu hari, sehingga dalam pembuatannya haus ada tiga tahapan yang pertama
tempe yang belum jadi, ke dua tempe yang setengah jadi dan yang ke tiga tempe
yang sudah jadi.
E. Laba
Yang Diperoleh
Selama
menjadi penjual tempe, Ibu juga mengalami banyak kendala. Diantaranya yaitu
pada pembuatan tempe terkadang tidak jadi atau ada rasa pahitnya. Ini menyebebkan
laku penjualannya sedikit dan akan di perkirakan mengalami kerugian.
Sedangkan
laba yang diperoleh perharinya tergantung pada banyaknya laku penjualan. Dapat
juga di perkirakan dalam pembuatan tempe dengan 10 kg kedelai, laba yang
diperoleh bisa mencapai Rp. Itu masuk laba kotor. Belum di potong dengan
pembelian gas dan plastic untuk membungkus tempe. Sehingga laba bersih yang
diperoleh hanya sekitar Rp. Per-harinya.
BAB IV
GIZI YANG
DIPEROLEH
Banyak
sekali ditemukan orang-orang kalangan menengah ke bawah yang mengkonsumsi
tempe. Sebagian yang mengkonsumsi tempe memang orang kalangan tersebut. Karena
harganya yang dikategorikan makanan yang murah.
Perlu
diketahui, pada tempe juga terdapat gizi yamg sangat diperlukan oleh tubuh dan
tidak kalah dengan daging. Misalnya yaitu protein nabati, kita tahu bahwa
protein sangat membantu pertumbuhan sel-sel tubuh, sehingga pertumbuhan tubuh
baik dan sehat. Dan masih banyak lagi zat-zat yang terkandung dalam tempe yang
tidak bisa kami ungkapakan satu persatu. Kami hanya menampilkan suatu zat gizi
yang mayoritas terdapat pada tempe.
Jadi
janganlah ada yang beranggapan kalau tempe itu makanan yang rakyat kecil dan
makanan yang tidak bergizi. Semua kalangan masyrakat harus merasakan kelezatan
tempe untuk keseimbangan tubuh.
BAB
V
PENUTUP
Setelah
mengadakan penelitian dan menganalisa permasalahan tentang motivasi petani
kedelai berpartisipasi dalam proses pembuatan tempe di Desa Kalisapu, Kec.
Slawi, Kab. Tegal. Maka sebagai hasil penelitian dari masyarakat petani
tersebut dalam bab terakhir ini penulis berusaha untuk menarik suatu implikasi
dan saran-saran yang mungkin dapat bermanfaat untuk membantu dalam proses pembangunan
pertanian bidang industry rumah tangga pada umumnya dan proses pembuatan tempe
pada khususnya.
Motivasi
adalah suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk melakukan suatu
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Adapun
motivasi yang di bahas dalam penelitian ini adalah motivasi pedagang dalam
kegiatan- kegiatan yang berkaitan dengan proses pembuatan tempe.
A. Kesimpulan
Dalam
proses pembuatan tempe menuntut kerja yang berkesinambungan, sabar dan penuh
ketelatenan agar dapat menghasilkan tempe yang baik dan tidakmudah busuk.
proses
pembuatan tempe di Desa Kalisapu dapat dikatakan berhasil, karena jumlah
permintaan akan tempe semakin meningkat. Namun karena keterbatasan dana maka
usaha tersebut belum dapat mencapai hasil yang maksimal. Untuk itu peran aktif
pengurus koperasi desalah perlu ditingkatkan demi suksesnya industry rumah
tangga.
B. Saran
dan Kritik
1. Saran
Bagi
produsen tempe diharapkan dalam pengolahan tempe memperhatikan kebersihan,
mengingat tempe tersebut akan di konsumsi oleh mausia.
2. Kritik
Kepada
para konsumen, jangan terlalu meremehkan keberadaan tempe sebagai lauk pauk.
Karena dalam tempe terkandung gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
:)
ReplyDeletekontol
ReplyDelete