Sunday, October 6, 2013

PENGARUH ASI EKSKLUSIF DENGAN MAKANAN TAMBAHAN PADA MASA TUMBUH KEMBANG BAYI


PENGARUH ASI EKSKLUSIF DENGAN MAKANAN TAMBAHAN
PADA MASA TUMBUH KEMBANG BAYI DI DESA GEMBONG
KECAMATAN TALANGKABUPATEN TEGAL

KaryaIlmiah
Disusundan Diajukan untuk Melengkapi Tugas Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas XI Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012

DisusunOleh :
                    Nama   :   Shabrina Evan Setianti
                    NIS     :106859                      
Kelas   :   XI IA 2
Nama   :   UlfaRizkiFitriyani
                    NIS     :   106879       
Kelas   :   XI IA 2


PEMERINTAH KABUPATEN TEGAL
DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA
UPTD SMA NEGERI 3 SLAWI
RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
Jalan Prof. Moh.YaminSlawiTelp. (0283) 491152
2012






BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah
     ASI merupakan makanan alami pertama untuk bayi dan harus diberikan tanpa makanan tambahan sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6 bulan. ASI harus menjadi makanan utama selama tahun pertama bayi dan menjadi makanan penting selama tahun kedua. ASI terus memberikan faktor-faktor anti infeksi yang tidak dapat diberikan oleh makanan lain. Setelah usia 4 bulan sampai 6 bulan di samping ASI dapat pula diberikan makanan tambahan, namun pemberiannya harus di berikan secara tepat meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa jumlah yang diberikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi. Sehingga saat mulai diberikan makanan tambahan harus di sesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan bayi dan kebutuhannya. Jika makanan tambahan diberikan pada bulan-bulan pertama setelah bayi dilahirkan, kemungkinan akan  timbul efek samping jika makanan tersebut diberikan terlalu dini. Waktu yang baik untuk memulai pemberian makanan padat biasanya pada umur 4 – 5 bulan. Resiko pada pemberian sebelum umur tersebut antara lain adalah kenaikan berat badan yang terlalu cepat hingga menjurus ke obesitas. Pemberian susu formula makanan pendamping ASI cair dan yang diberikan pada bayi kurang dari 4 bulan cenderung dengan intensitas atau frekuensi yang sangat tinggi sehingga dapat membahayakan dan berakibat kurang baik pada anak, yang dampaknya adalah kerusakan pada usus bayi. Karena pada umur demikian usus belum siap mencerna dengan baik sehingga pertumbuhan berat badan bayi terganggu, antara lain adalah kenaikan berat badan yang terlalu cepat sehingga ke obesitas dan malnutrisi.
B.     Rumusan Masalah
      Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
1.         Kapan waktu yang tepat pemberian makanan tambahan pada bayi ?
2.        Apa akibat bila pemberian makanan tambahan diberikan pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan ?
3.        Apakah ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap pertumbuhan berat badan bayi ?
4.         Berapa banyak frekuensi pemberian makanan tambahan pada bayi ?
5.         Makanan tambahan apa saja yang baik bagi masa pertumbuhan pada bayi ?

                                                                                     
C.     Tujuan Penelitian
      Dalam penulisan karya tulis ini, penulis mempunyai beberapa tujuan yang di harapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca, adapun tujuan yang di maksud adalah :   
1.      Untuk mengetahui waktu pemberian makanan tambahan yang baik pada anak.
2.      Untuk mengetahui dampak dari pemberian makanan tambahan yang diberikan pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan.
3.      Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi.
4.      Untuk mengetahui frekuensi pemberian makanan tambahan pada bayi.
5.      Untuk mengetahui makanan yang baik bagi masa pertumbuhan bayi.          
                                                                                                              
D.     Metode Penulisan
      Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah :
  1. Metode wawancara
Metode ini merupakan metode dengan mencari data dan informasi dengan cara melakukan wawancara langsung kepada narasumber yang bersangkutan, sehingga hasil laporan yang di buat dapat di pertanggungjawabkan.
  1. Metode observasi
Dalam metode ini penulis memperoleh data dengan mengamati objek yang akan di bahas.
  1. Metode perpustakaan
Dalam metode ini penulis mencari materi atau teori yang di peroleh dari berbagai media, baik media cetak maupun elektronik

E.      Pelaksanaan penelitian
1.   Waktu penelitian
Penelitian di laksanakan pada :
hari                                     : Selasa
tanggal                                : 10 Februari 2012
2.   Tempat penelitian                : BPS Haryanti Amd.keb
                                                  Desa Gembong Kulon Kec.Talang Kab.Tegal
F.      Manfaat Penelitian
1.   Bagi Peneliti
Menambah wawasan peneliti dalam mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan tentang pemberian makanan tambahan.

2.   Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Menambah wawasan dalam bidang gizi mengenai hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi.
  1. Sistematika Penulisan
      Dalam sistem penulisan, penulis akan menguraikan dan menjelaskan beberapa hal, sebagai berikut:
      BAB I PENDAHULUAN berisi tentang Latar Belakang Masalah, Pembahasan Masalah, Tujuan Masalah, Metode Penulisan, Pelaksanaan Penelitian dan Sistematika Penulisan.
            BAB II LANDASAN TEORI menjelaskan Landasan Teori, yang meliputi definisi  ASI, definisi ASI eksklusif, komposisi ASI, manfaat pemberian ASI, definisi pemberian makanan tambahan, jenis makanan tambahan, waktu tanda bahwa seorang bayi sudah siap untuk menerima makanan tambahan, Pemberian Makanan Tambahan Dini yang berisi definisi dan dampak  pemberian makanan tambahan dini, pertumbuhan yang berisi definisi pertumbuhan hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi.
BAB III HASIL PENELITIAN berisi data umum yang berisi tentang jenis kelamin bayi, usia ibu, frekuensi pemberian asi ekslusif, macam – macam ASI ekslusif, Alasan pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan, jenis makanan tambahan dini pertama kali dan alasan pemberian makanan tambahan dini serta data khusus  berisi tentang usia pemberikan makanan tambahan pertama kali, pertumbuhan berat badan, hubungan  antara  pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi beserta pembahasannya  .
BAB IV berisi tentang kesimpulan dan saran.















BAB II
LANDASAN TEORI

A.           Landasan Teori

1.   Definisi ASI

            Air Susu Ibu (ASI) merupakan pemberian air susu kepada bayi yang langsung berasal dari kelenjar payudara ibu. Air Susu Ibu (ASI) adalah emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekresioleh kedua belah kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan yang utama bagi bayi.ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna dan yang terbaik bagi bayi karena dapat memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas.ASI memiliki kandungan zat gizi yang untuk keperluan bayi serta mengandung zat anti infeksi.Oleh karenanya ASI merupakan makanan terbaik dan paling baik untuk bayi.

2.                  Definisi ASI eksklusif 
            ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan,diberikan tanpa terjadwal dan tanpa memberikan makanan lain, seperti susu formula,madu, jeruk, air teh, air putih dan tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi tim, sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap diberi ASI sampai berumur 2 tahun.
3.                   Komposisi ASI
            ASI mengandung lebih dari 200 unsur pokok, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan, hormon, enzim, zat kekebalan dan sel darah putih. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan seimbang dengan yang lainnya :
a.         Komposisi ASI antara lain :
1)                   Karbohidrat
   Karbohidrat utama ASI adalah laktosa (gula). ASI mengandung lebih banyak laktosa di banding susu mamalia lainnya. Laktosa ASI 20-30 % lebih banyak dari susu sapi. Kegunaan laktosa bagi bayi yaitu untuk :
a)         Pertumbuhan otak. Salah satu produk dari laktosa yaitu galaktosa. Ini penting bagi jaringan otak yang sedang tumbuh. 
b)      Meningkatkan penyerapan kalsium yang sangat penting untuk  pertumbuhan tulang.
c)        Meningkatkan pertumbuhan bakteri usus yang baik, yaitu Lactobacillus Bifidus.
d)      Laktosa oleh fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Adanya asam laktat ini memberikan suasana asam di dalam usus bayi. Dengan suasana asam di dalam usus akan memberikan beberapa keuntungan, diantaranya menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya.        
2)                           Protein
            Air Susu Ibu mengandung protein berguna untuk membantu pertumbuhan bayi. ASI mengandung beberapa macam protein yaitu :
a)        Whey atau Kasein
            Whey atau Kasein adalah protein yang halus, lembut, dan mudah dicerna.Kasein adalah protein yang berbentuk kasar, bergumpal, dan sukar dicerna oleh usus bayi.
b)      Taurin
            Taurin adalah protein otak yang di perlukan untuk pertumbuhan otak, susunan saraf, juga penting untuk pertumbuhan retina.
c)      Lactoferrin
            Laktoferrin bertindak sebagai bakteri dalam usus. Laktoferrin akan membiarkan bakteri usus yang baik, yang menghasilkan vitamin, untuk tumbuh, sedangkan bakteri yang jahat, yang akan menyebabkan penyakit, dihancurkan.
d)      Lysosyme
     Lysosyme adalah suatu kelompok antibiotik alami di dalam ASI. Suatu protein special yang akan menghancurkan bakteri berbahaya.
3)                           Lemak ASI
                        Lemak ASImengandung jumlah lemak sehat yang tepat secara proporsional. Lemak ASI mudah dicerna dan diserap.ASI mengandung enzyme lipase pencerna lemak, sehingga hanya sedikit lemak ASI yang tidak diserap oleh usus bayi. .
4.      Manfaat Pemberian ASI
a.                                                       Manfaat bagi bayi
Beberapa manfaat pemberian ASI yang diperoleh bayi antara lain :
1)      Sebagai nutrisi
              ASI merupakan sumber gizi yang ideal dengan komposisi yang seimbang dan di sesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya.ASI adalah makanan yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan melaksanakan tatalaksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai usia 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi harus diberi makanan padat tambahan, tetapi ASI masih dapat diteruskan sampai usia dua tahun atau lebih.
2)    Meningkatkan daya tahan tubuh bayi
                    Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang (mature). Zat kekebalan yang terdapat pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari penyakit diare. Selain itu, ASI juga akan menurunkan kemungkinan bayi terkena berbagai penyakit infeksi seperti telinga, batuk, dan penyakit alergi.
b.         Manfaat bagi ibu
Beberapa manfaat pemberian ASI yang diperoleh ibu antara lain :
1)      Mengurangi perdarahan setelah melahirkan. Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post partum) akan berkurang. Hal ini karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi atau penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.Hal ini menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan.
2)      Mengurangi terjadi anemia. Karena menyusui dapat mengurangi perdarahan, maka dapat mengurangi kemungkinan terjadinya anemia pada ibu.
3)       Menjarangkan kehamilan.Menyusui merupakan kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup berhasil.
4)      Mengecilkan rahim. Kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat akan sangat membantu rahim kembalike ukuran sebelum hamil. Proses pengecilan ini akan lebih cepat dibandingkan padaibu yang tidak menyusui.
5)      Mengurangi kemungkinan menderita kanker. Pada ibu yang memberikan ASI eksklusif, umumnya kemungkinan menderita kanker  payudara dan ovarium berkurang.
5.                  Definisi pemberian makanan tambahan
            Pemberian makanan tambahan berarti memberi makanan selain ASI dan PASI. Makanan lain ini disebut makanan tambahan.
6.                  Tujuan pemberian makanan tambahan
Tujuan pemberian makan pada bayi atau anak mempunyai suatu tujuan, yaitu :
a.    Memenuhi kebutuhan zat makanan yang kuat untuk keperluan hidup, memelihara kesehatan dan untuk aktivitas sehari-hari.
b.   Menunjang tercapainya tumbuh kembang yang optimal.
c.    Mendidik anak supaya terbina selera dan kebiasaan makan yang sehat, memilih dan menyukai makanan sesuai dengan keperluan anak.
7.                  Jenis-jenis makanan tambahan
Berikut jenis-jenis makanan tambahan :         
a.    Makanan pendamping cair Seperti sari buah.
b.   Makanan lunak atau lembek Seperti bubur susu, nasi tim saring, dan lain-lain.
c.    Makanan padat Seperti nasi tim, nasi dan makanan orang dewasa lainnya.
Persyaratan makanan bayi dan anak harus memenuhi persyaratan, yaitu :           
1)      Kebutuhan zat-zat makanan terpenuhi secara adekuat, yaitu tidak belebihan atau kekurangan.
2)      Mudah diterima dan dicerna.
3)      Jenis makanan dan cara pemberian sesuai dengan pemberian kebiasaan makan yang sehat.
4)      Terjamin kebersihannya dan bebas dari bibit penyakit.
5)      Susunan menu seimbang (berasal dari 10 – 15 % dari protein, 25 – 35% dari lemak dan 50 – 65 % dari karbohidrat).
8.      Waktu tanda bahwa seorang bayi sudah siap untuk menerima makanan tambahan adalah bahwa bayi tersebut :
a.       Sekurangnya berusia 4 bulan karena pada umur 4 bulan tersebut, bayi sudah mengeluarkan air liur lebih banyak dan produksi enzim amilase lebih banyak pula, sehingga bayi siap menerima makanan lain selain ASI.
b.      Kebutuhan energi bayi untuk pertumbuhan dan aktivitas makin bertambah, sedangkan produksi ASI relatif tetap, sehingga diperlukan tambahan makanan selain ASI yang dimulai pada umur 4 – 6 bulan untuk membiasakan bayi makan makanan lain selain ASI.
c.       Bayi sudah bisa menutup mulutnya dengan rapat dan menggerakkan lidah ke muka belakang. Apabila makanan disuapkan ke dalam mulutnya, maka lidah bayi dapat memindahkan makanan tersebut ke arah belakang dan menelannya. Pada saat inilah bayi diberikan kesempatan mempraktekkan kepandaiannya tersebut dengan memberikan makanan lunak. Dengan bertambah matangnya kemampuan oromotor, bayi umur 6 – 9 bulan mulai belajar mengunyah dengan menggerakkan rahang ke atas dan ke bawah, sehingga dapat diberikan makanan yang lebih kasar. Demikian pula dengan kemampuan motorik halus dimana pada awalnya bayi memegang dengan kelima jari tangannya kemudian pada umur 9 bulan bayi sudah dapat menjimpit, maka untuk mengembangkan kemampuan tersebut, bayi diberikan makanan yang dapat di pegang sendiri atau makanan kecil yang dapat dijimpit. Pada umur 6 – 7 bulan bayi sudah dapat duduk, sehingga dapat diberikan makanan dalam posisi duduk. Pada umur 6 – 9 bulan bibir bayi sudah dapat mengatup rapat pada cangkir, sehingga dapat di latih minum memakai cangkir atau gelas yang dipegang oleh orang lain. Pada tahun kedua, anak belajar makan sendiri dengan menggunakan sendok. Terlalu lambat mulai memberikan makanan tambahan juga kurang baik karena dapat menyebabkan bayi kurang gizi dan menghambat ketrampilan makan bayi.
9.                  Pemberian Makanan Tambahan Dini
a.    Definisi Pemberian makanan tambahan dini adalah memberikan makanan lain selain ASI dan PASI sebelum bayi berusia 4 bulan atau 6 bulan.
b.   Dampak pemberian makanan tambahan dini dapat mengakibatkan :
1)      Bayi lebih sering menderita diare karena pembentukan zat anti oleh usus bayi yang belum sempurna.
2)      Bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu. Keadaan ini terjadi akibat usus bayi masih permeabel, sehingga mudah dilalui oleh protein asing.
3)      Terjadi malnutrisi atau gangguan pertumbuhan anak karena zat essensial yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan zat gizi sehingga menimbulkan keadaan obesitas dan dapat merupakan racun bagi tubuh.
4)      Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah kenyang dengan makanan tambahan tadi, maka frekuensi menyusut menjadi lebih jarang, akibatnya dapat menurunkan produksi ASI dan bayi kekurangan zat – zat yang dibutuhkan sebelum usia 4 bulan atau 6 bulan yang tidak dapat di berikan oleh makanan lain.
5)      Tingginya solute load dari makanan tambahan yang diberikan, sehingga dapat menimbulkan hiperosmolaritas yang meningkatkan beban ginjal.
6)      Menurunkan daya tahan tubuh bayi karena bayi kekurangan protein yang sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
7)      Terjadi obstruksi usus karena usus bayi belum mampu melakukan gerak peristaltik secara sempurna.
10.              Pertumbuhan
a.    Definisi pertumbuhan (growth)
Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan.Jadi bersifat kuantitatif sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan mempergunakan satuan panjang dan satuan berat.
b.   Hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi.
         Pemberian makanan tambahan dini mengandung energi berlebihan, zat gizi essensial yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan zat gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan obesitas (gangguan pertumbuhan berat badan) dan dapat menjadi racun bagi tubuh. Gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan balita, antara lain disebabkan kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat, makanan tambahan tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama mineral besi, perawatan bayi yang kurang memadai dan ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Menurut Cesilia M. Reveriani, pakar gizi anak Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menguraikan hasil survey penggunaan makanan pendamping ASI sekitar 49% bayi sebelum usia 4 bulan sudah diberi susu formula, 45,1% makanan cair selain susu formula dan 50% makanan padat.
























BAB III
HASIL PENELITIAN

A.       Hasil Penelitian

Pada bab ini disajikan mengenai hasil pengumpulan data dari lembaran quesioner yang di peroleh pada tanggal 10 Febuari 2012 di BPS Haryanti Amd.keb didesa Gembong Kulon, Kec.Talang, Kab.Tegal. hasil penelitian meliputi data umum dan data khusus. Data – data hasil akan di sajikan dalam bentuk table frekuensi (prosentase) dan di berikan uraian secara diskripsi.
                                                                                   
1.    Gambaran umum lokasi penelitian

Lokasi penelitian adalah di BPS Haryanti Amd.keb didesa Gembong Kulon, Kec.Talang, Kab.Tegal dan berada di bawah naungan puskesmas Talang. Tempat ini melayani pemeriksaan kehamilan, Keluarga Berencana, imunisasi, pengobatan setiap hari dari pukul 06.00 WIB sampai dengan 08.00 WIB dan pada pukul 16.00 WIB sampai dengan 20.30 WIB serta pertolongan persalinan normal selama 24 jam. Jumlah kunjungan rata – rata 40 orang perhari.Tenaga kerja di BPS ini 2 orang bidan, 1 orang pembantu umum.

2.      Data umum
Penyajian data umum meliputi jenis kelamin bayi, usia ibu, pemberian ASI ekslusif, alasan pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan, jenis makanan tamabahan dini pertama kali dan alasan pemberian makanan tambahan.

a.    Jenis kelamin bayi
                                                                                     
Table 3.1distribusi frekuensi jenis kelamin bayi
No.
Jenis kelamin
Jumlah
Presentasi
1.
Laki – laki
17
56.7
2.
Perempuan
13
43,3

Total
30
100
Berdasarkan table diatas dapat di ketahui bahwa sebagian besar responden mempunyai bayi laki – laki sebanyak 17 bayi (56,7%).

b.    Usia ibu

Table 3.2 distribusi frekuensi usia responden di BPS. Haryanti Amd.keb, alamat desa Gembong Kulon, pada tanggal 10 januari 2012
No.
Usia ibu
Jumlah
Presentasi
1.
< 20 tahun
0
0
2.
20 – 30 tahun
26
86,7
3.
> 30 tahun
4
13,3

Total
30
                100
Berdasarkan distribusi frekuensi usia responden bahwa sebagian besar responden ibu pada usia 20 – 30 tahun (86,7).


c.    Pemberian Asi Ekslusif

Tabel  3.3 Distributor frekuensi pemberian asi ekslusif di BPS. Haryanti Amd.keb
No.
Pemberian Asi Ekslusif
Jumlah
Prosentase
1.
Asi Ekslusif
7
23,3
2.
Tidak Asi Ekslusif
27
76,7

Total
30
100
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden tidak memberikan asi ekslusif sebanyak 23 orang (76,7%)

d.    Macam – macam Asi Ekslusif
Table 3.4 Distribusi frekuensi macam – macam asi tidak ekslusif di BPS. Haryanti

No.
Macam – macam asi ekslusif
jumlah
presentase
1.
Ekslusif
1
4,3
2.
PASI
7
3,0
3.
ASI + PASI
9
39,1
4.
ASI + PASI + PMT dini
1
4,3
5.
PASI + PMT +dini
5
21,9

Total
23
100
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak memberikan Asi Ekslusif  yaitu sudah diberiakan ASI + PASI +PMT dini sebanyak 9 orang (39.1 %).

e.    Alasan pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan.
                                         
Berdasarkan table 3.4 diatas dapat diketahui bahwa dari 23 bayi yang tidak mendapatkan Asi Ekslusif, 18 bayi diantaranya sudah mendapat susu formula (PASI) dengan alasan sebagai berikut :

Table 3.5
No.
Alasan pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan
Jumlah
frekuensi
1.
Asi tidak keluar
1
5,5
2.
Asi tidak lancar
7
38,9
3.
Bayi masih rewel setelah disusui
7
38,9
4.
Ibu sibuk total
3
16,7

total
18
100

Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian responden memberikan susu formula sebelum usia 4 bulan karena asi tidak lancer dan bayi masih rewel setelan disusui sebanyak 7 orang (38,9%).

f.     Pemberian makanan tambahan dini

Berdasarkan table 3.4 diatas dapat diketahui bahwa dari 23 bayi yang tidak mendapatkan Asi Ekslusif, 15 bayi diantaranya sudah mendapat makanan tambahan dini dengan alasan dan jenis makanan sebagai berikut :

1)      Jenis makanan tambahan dini pertama kali
Table 3.6 distribusi frekuensi jenis makanan tambahan dini pertama kali diberikan di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.

No.
Jenis makanan tambahan dini pertama kali
Jumlah
prosentase
1.
Bubur susu
10
66,7
2.
Pisang kerok
5
33,3
3.
Nasi tim
0
0
4.
Nasi
0
0

Total
15
100
    Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memberikan bubur susu sebelum bayi berusia 4 bulan sebanyak 20 orang (66,7%).

g.    Alasan pemberian makanan tambahan dini
Table 3.7 distribusi frekuensi alasan pemberian makanan tambahan dini di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.

No.
Alasan pemberian makanan tambahan dini
Jumlah
Prosentase
1.
Tidak rewel
1
6,7
2.
Cepet gemuk
14
93,3
3.
tradisi
0
0

total
15
100
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memberikan makanan tambahan dini supaya cepat gemuk sebanyak 14 orang (93,3%).

3.    Data khusus

Peyajian data khusus meliputi variabel-variabel yang di ukur  yaitu variabel bebas adalah pemberian makanan tambahan dini dan variabel tergatung adalah pertumbuhan berat bada bayi.






a.       Pemberian makanan tambahan dini

Tabel 3.8
No.
Pemberian makanan tambahan dini
Jumlah
Prosentase
1.
Pemberian makanan tambahan sesuai usia
15
50
2.
Pemberian makanan tambahan tidak sesuai usia
15
50

Total
30
100
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa usia pemberikan makanan tambahan pertama kali besarnya saa antara lebih dari 4 bulan dan kurang dari 4 bulan sebanyak 15 orang (50%).

b.    Pertumbuhan berat badan bayi
Table 3.9 Distribusi frekuensi pertumbuhan berat badan bayi di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.

No.
Pertumbuhan berat badan bayi

Jumlah
Prosentase
1.
Normal
14
46,7
2.
Tidak normal
16
53,3

Total
30
100
               Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan berat badan bayi sebagian besar responden tidak normal yaitu sebanyak 16 orang (53,3%).

c.       Hubungan  antara  pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.

Table 3.10
No.
Pertumbuhan pemberian makanan tambahan dini
Berat badan normal
Berat badan tidak normal
Total
n
%
n
%
n
%
1.
PMT sesuai usia
11
36,7
4
13,3
15
50
2.
PMT dini
3
10
12
40
15
50

Total
14
46,7
16
53,3
30
100

Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa pemberikan makanan tambahan dini berhubungan dengan pertumbuhan berat badan bayi.Terlihat bahwa dari 15 responden yang memberikan makanan tambahandini dengan

Sedangkan bayi yang diberi makanan tambahan sesuai usia dengan pertumbuhan berat badan normal sebanyak 11 bayi (36,7%).

B.     Pembahasan
1.    Identifikasi pemberian makanan tambahan
        Dari 30 bayi, 15 bayi mendapatkan makanan tambahan dini, 10 bayi mendapat bubur susu, sebagian makanan tambahan pertama yang diterima, sedangkan 4 lainnya mendapatkan pisang kerok. Alasan terbanyak  bayi-bayi tersebut diberi makanan tambahan dini supaya cepat gemuk yaitu 14 bayi, sisanya 1 bayi supaya tidak rewel. ASI merupakan makanan alami pertama untuk bayi dan harus diberikan tanpa makanan tambahan sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6 bulan, karena ASI terus memberikan faktor-faktor anti infeksi yang tidak dapat diberikan oleh makanan lain.
        Dari 30 bayi hanya 7 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, sedangkan 23 lainnya tidak. Mereka sudah mendapatkan susu formula dan makanan tambahan sebelum usia 4 bulan. Banyak alasan mengapa para ibu tidak memberikan ASI eksklusif antara lain 7 orang karena ASI tidak lancar, 7 orang mengatakan bayi masih rewel setelah disusui, 3 orang karena sibuk, dan 1 orang karena ASI tidak keluar, serta 5 orang lainnya sudah memberikan makanan tambahan. Padahal sebagian besar responden pada dasarnya bisa memberikan ASI eksklusif asalkan mereka telaten dan sabar dalam memberikan ASI kepada bayinya.

2.    Identifikasi pertumbuhan berat badan bayi usia 4 bulan
        Sebanyak 16 bayi dari 30 bayi mengalami pertumbuhan berat badan tidak normal, sedangkan 14 bayi lainnya normal. Dalam KMS, bayi yang berusia 4 bulan hendaknya memiliki berat badan antara 5200 gram sampai 7400 gram. Diluar itu pertumbuhan berat badan bayidapat digolongkan tidak norma. Banyak sebab yang dapat mempengaruhi pertumbuhan berat badan pada awal masa kehidupan balita antara lain kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat, makanan tambahan tidak cukup mengandung energi dan gizi mikro terutama mineral, besi dan seng, perawatan bayi yang kurang memadai dan tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

3.    Hubungan antara makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi
        Dari hasil analisa data dapat diketahui bahwa 15 bayi yang mendapatkan makanan tambahan dini 12 bayi (40%) diantaranya mengalami pertumbuhan berat badan tidak normal. Sedangkan dari 15 bayi yang mendapatkan makanan tambahan sesuai usia hanya 4 bayi (13,3%) yang mengalami pertumbuhan berat badan normal.
        Pemberian makanan tambahan dini di Indonesia terutama di daerah pedesaan sering kita jumpai. Bayi-bayi yang mendapat makanan tambahan dini memiliki kecenderungan lebih besar mengalami pertumbuhan berat badan tidak normal daripada bayi-bayi mendapat makanan tambahan sesuai usia, karena pemberian makanan tambahan dini mengalami energi berlebihan, zat gizi essesial yang diberikan secara berlebihan akan mengakibatkan penimbunan gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan obesitas dan dapat merupakan racun bagi tubuh yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan bayi tersebut. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah termasuk rasa tau etnik, jenis kelamin, genetic, penyakit, social ekonomi dan lingkungan pengasuhan.

Semua orang tua harus diberitahu mengenai hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat bdan bayi.Bayi gemuk terlebih obesitas tidak selamanya dapat diartikan sehat.Oleh sebab itu hendaknya pada orang tua harus memberikan nutrisi kepada bayinya sesuai dengan jadwal. Karebna pembarian nutrisi kepada bayi harus di berikan secara tepat meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa yang di berikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi. Sehingga saat mulai diberikan nutrisi harus disesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan bayi dan kebutuhannya.










































BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini diuraikan mengenai simpulan dan saran hasil penelitian dan merupakan jawaban masalah dan tujuan penelitian.

A.     Simpulan
  
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa :

1.       Waktu yang tepat pemberian makanan tambahan pada bayi Sekurangnya berusia 4 bulan karena pada umur 4 bulan tersebut, bayi sudah mengeluarkan air liur lebih banyak dan produksi enzim amilase lebih banyak pula, sehingga bayi siap menerima makanan lain selain ASI.
2.       Akibat bila pemberian makanan tambahan diberikan pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan yaitu :
a.         Bayi lebih sering menderita diare karena pembentukan zat anti oleh usus bayi yang belum sempurna.
b.         Bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu. Keadaan ini terjadi akibat usus bayi masih permeabel, sehingga mudah dilalui oleh protein asing.
c.          Terjadi malnutrisi atau gangguan pertumbuhan anak karena zat essensial yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan zat gizi sehingga menimbulkan keadaan obesitas dan dapat merupakan racun bagi tubuh.
d.         Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah kenyang dengan makanan tambahan tadi, maka frekuensi menyusut menjadi lebih jarang, akibatnya dapat menurunkan produksi ASI dan bayi kekurangan zat – zat yang dibutuhkan sebelum usia 4 bulan atau 6 bulan yang tidak dapat di berikan oleh makanan lain.
e.         Tingginya solute load dari makanan tambahan yang diberikan, sehingga dapat menimbulkan hiperosmolaritas yang meningkatkan beban ginjal.
f.          Menurunkan daya tahan tubuh bayi karena bayi kekurangan protein yang sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
g.         Terjadi obstruksi usus karena usus bayi belum mampu melakukan gerak peristaltik secara sempurna.

3.       Ada, karena jika pemberian makanan tambahan bayi terlalu dini dan mengandung energi berlebihan, zat gizi essensial yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan zat gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan obesitas (gangguan pertumbuhan berat badan) dan dapat menjadi racun bagi tubuh.
4.       Frekuensi pemberian makanan tambahan pada bayi sebaiknya disesuaikan dengan usia bayi. Anda dapat melihat secara kasat mata bagaimana anak yang sudah bisa mengkonsumsi makanan tambahan yaitu sebagai berikut :
a.    Bayi sudah bisa menutup mulutnya dengan rapat dan menggerakkan lidah ke muka belakang. Kepandaiannya tersebut dengan memberikan makanan lunak.
b.    Dengan bertambah matangnya kemampuan oromotor, bayi umur 6 – 9 bulan mulai belajar mengunyah dengan menggerakkan rahang ke atas dan ke bawah, sehingga dapat diberikan makanan yang lebih kasar.
c.    Pada umur 9 bulan bayi sudah dapat menjimpit, maka untuk mengembangkan kemampuan tersebut, bayi diberikan makanan yang dapat di pegang sendiri atau makanan kecil yang dapat dijimpit.
5.       Makanan tambahan yang baik pagi masa pertumbuhan pada bayi :
a.    Makanan pendamping cair Seperti sari buah.
b.    Makanan lunak atau lembek Seperti bubur susu, nasi tim saring, dan lain-lain.
c.    Makanan padat Seperti nasi tim, nasi dan makanan orang dewasa lainnya.
Persyaratan makanan bayi dan anak harus memenuhi persyaratan, yaitu :       
1)        Kebutuhan zat-zat makanan terpenuhi secara adekuat, yaitu tidak belebihan atau kekurangan.
2)        Mudah diterima dan dicerna.
3)        Jenis makanan dan cara pemberian sesuai dengan pemberian kebiasaan makan yang sehat.
4)        Terjamin kebersihannya dan bebas dari bibit penyakit.
5)        Susunan menu seimbang (berasal dari 10 – 15 % dari protein, 25 – 35% dari lemak dan 50 – 65 % dari karbohidrat).             
B.       Saran

Mempertimbangkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang hubungan antara makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi maka perlu ditingkatkan :

1.    Dalam memberikan asuhan hendaknya perlu diperhatikan kebutuhan nutrisi bayi sejak bayi dalam kandungan hingga bayi lahir, tumbuh dan berkembang. Sehingga pertumbuhan berat badannya senantiasa dalam batas normal.
2.    Petugas yang bersangkutan hendaknya memberikan saran kepada orang tua yang akan atau telah memiliki bayi mengenai kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang bayi dan balita. Antara lain tentang ASI eksklusif dan jadwal pemberian makanan, juga cara memantau pertumbuhan berat badan bayi secara sederhana melalui KMS (Kartu Menuju Sehat).
3.    Ibu hamil dan menyusui hendaknya lebih meningkatkan gizi yang dikonsumsinya agar produk ASI-nya berkulitas sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi terpenuhi. Belajar memantau pertumbuhan berat badan bayinya secara sederhana melalui KMS (Kartu Menuju Sehat).
4.    Ibu hamil dan menyusui hendaknya lebih meningkatkan gizi yang dikonsumsinya agar produk ASI-nya berkualitas sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi terpenuhi. Belajar memantau pertumbuhan berat badan bayinya secara sederhana melalui KMS (Kartu Menuju Sehat).
5.    Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi agar hasil penelitian lebih baik, teoriset dan metodologi penelitian harus diperdalam dan waktu pelaksanaan penelitian perlu sedikit diperpanjang.











































No comments:

Post a Comment