PENGARUH ASI EKSKLUSIF
DENGAN MAKANAN TAMBAHAN
PADA MASA TUMBUH
KEMBANG BAYI DI DESA GEMBONG
KECAMATAN
TALANGKABUPATEN TEGAL
KaryaIlmiah
Disusundan Diajukan untuk Melengkapi Tugas Bidang Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia Kelas XI Semester 2 Tahun Pelajaran
2011/2012
DisusunOleh :
Nama : Shabrina
Evan Setianti
NIS :106859
Kelas : XI
IA 2
Nama : UlfaRizkiFitriyani
NIS : 106879
Kelas : XI
IA 2
PEMERINTAH
KABUPATEN TEGAL
DINAS
PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA
UPTD
SMA NEGERI 3 SLAWI
RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
Jalan Prof. Moh.YaminSlawiTelp. (0283) 491152
Website
: www.sman3slawi.sch.id
Email
: sman3slawi@yahoo.co.id
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
ASI merupakan makanan alami pertama untuk
bayi dan harus diberikan tanpa makanan tambahan sekurang-kurangnya sampai usia
4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6 bulan. ASI harus menjadi makanan utama
selama tahun pertama bayi dan menjadi makanan penting selama tahun kedua.
ASI terus memberikan faktor-faktor anti infeksi yang tidak dapat diberikan oleh
makanan lain. Setelah usia 4 bulan sampai 6 bulan di samping ASI dapat pula
diberikan makanan tambahan, namun pemberiannya harus di berikan secara tepat
meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa jumlah yang
diberikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi. Sehingga saat
mulai diberikan makanan tambahan harus di sesuaikan dengan maturitas saluran
pencernaan bayi dan kebutuhannya. Jika makanan tambahan diberikan pada
bulan-bulan pertama setelah bayi dilahirkan, kemungkinan akan timbul efek samping jika makanan tersebut
diberikan terlalu dini. Waktu yang baik untuk memulai pemberian makanan padat
biasanya pada umur 4 – 5 bulan. Resiko pada pemberian sebelum umur tersebut
antara lain adalah kenaikan berat badan yang terlalu cepat hingga menjurus ke
obesitas. Pemberian susu formula makanan pendamping ASI cair dan yang diberikan
pada bayi kurang dari 4 bulan cenderung dengan intensitas atau frekuensi yang
sangat tinggi sehingga dapat membahayakan dan berakibat kurang baik pada anak,
yang dampaknya adalah kerusakan pada usus bayi. Karena pada umur demikian usus
belum siap mencerna dengan baik sehingga pertumbuhan berat badan bayi
terganggu, antara lain adalah kenaikan berat badan yang terlalu cepat sehingga
ke obesitas dan malnutrisi.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
1.
Kapan waktu yang tepat pemberian makanan tambahan pada bayi ?
2.
Apa akibat bila pemberian makanan tambahan diberikan pada
bayi sebelum usia 4 – 6 bulan ?
3.
Apakah ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap
pertumbuhan berat badan bayi ?
4.
Berapa banyak frekuensi pemberian makanan tambahan pada bayi
?
C.
Tujuan Penelitian
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis
mempunyai beberapa tujuan yang di harapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca, adapun tujuan yang di maksud adalah :
1.
Untuk mengetahui waktu pemberian makanan tambahan yang baik
pada anak.
2.
Untuk mengetahui dampak dari pemberian makanan tambahan yang
diberikan pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan.
3.
Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan tambahan
dini dengan pertumbuhan berat badan bayi.
4.
Untuk mengetahui frekuensi pemberian makanan tambahan pada
bayi.
5.
Untuk mengetahui makanan yang baik bagi masa pertumbuhan
bayi.
D.
Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini, penulis
menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah :
- Metode wawancara
Metode ini merupakan metode dengan
mencari data dan informasi dengan cara melakukan wawancara langsung kepada
narasumber yang bersangkutan, sehingga hasil laporan yang di buat dapat di
pertanggungjawabkan.
- Metode observasi
Dalam metode ini penulis memperoleh
data dengan mengamati objek yang akan di bahas.
- Metode perpustakaan
Dalam metode ini penulis mencari
materi atau teori yang di peroleh dari berbagai media, baik media cetak maupun
elektronik
E.
Pelaksanaan penelitian
1.
Waktu penelitian
Penelitian
di laksanakan pada :
hari : Selasa
tanggal : 10 Februari
2012
2.
Tempat penelitian :
BPS Haryanti
Amd.keb
Desa Gembong Kulon Kec.Talang Kab.Tegal
F.
Manfaat Penelitian
1.
Bagi Peneliti
Menambah
wawasan peneliti dalam mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan tentang
pemberian makanan tambahan.
2.
Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Menambah wawasan
dalam bidang gizi mengenai hubungan antara pemberian makanan tambahan dini
dengan pertumbuhan berat badan bayi.
- Sistematika Penulisan
Dalam sistem penulisan, penulis akan
menguraikan dan menjelaskan beberapa hal, sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN berisi tentang Latar
Belakang Masalah, Pembahasan Masalah, Tujuan Masalah, Metode Penulisan,
Pelaksanaan Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI menjelaskan
Landasan Teori, yang meliputi definisi
ASI, definisi ASI eksklusif, komposisi ASI, manfaat pemberian ASI,
definisi pemberian makanan tambahan, jenis makanan tambahan, waktu tanda bahwa
seorang bayi sudah siap untuk menerima makanan tambahan, Pemberian Makanan
Tambahan Dini yang berisi definisi dan dampak
pemberian makanan tambahan dini, pertumbuhan yang berisi definisi
pertumbuhan hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan
berat badan bayi.
BAB
III HASIL
PENELITIAN berisi data umum yang berisi tentang jenis kelamin bayi, usia
ibu, frekuensi pemberian asi ekslusif, macam – macam ASI ekslusif, Alasan
pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan, jenis makanan tambahan dini
pertama kali dan alasan pemberian makanan tambahan dini serta data khusus berisi tentang usia pemberikan
makanan tambahan pertama kali, pertumbuhan berat badan, hubungan antara
pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi beserta pembahasannya .
BAB
IV berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Landasan Teori
1. Definisi ASI
Air Susu Ibu
(ASI) merupakan pemberian air susu kepada bayi yang langsung berasal dari
kelenjar payudara ibu. Air Susu Ibu (ASI) adalah emulsi lemak dalam larutan
protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekresioleh kedua belah
kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan yang
utama bagi bayi.ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna dan
yang terbaik bagi bayi karena dapat memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi
untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan cerdas.ASI
memiliki kandungan zat gizi yang untuk keperluan bayi serta mengandung zat anti
infeksi.Oleh karenanya ASI merupakan makanan terbaik dan paling baik untuk
bayi.
2.
Definisi ASI eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah
persalinan,diberikan tanpa terjadwal dan tanpa memberikan makanan lain, seperti
susu formula,madu, jeruk, air teh, air putih dan tambahan makanan padat seperti
pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi tim, sampai bayi berumur 6
bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap
diberi ASI sampai berumur 2 tahun.
3.
Komposisi ASI
ASI mengandung lebih dari
200 unsur pokok, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin,
mineral, faktor pertumbuhan, hormon, enzim, zat kekebalan dan sel darah putih.
Semua zat ini terdapat secara proporsional dan seimbang dengan
yang lainnya :
a.
Komposisi ASI antara lain :
1)
Karbohidrat
Karbohidrat utama ASI adalah
laktosa (gula). ASI mengandung lebih banyak laktosa di banding susu mamalia
lainnya. Laktosa ASI 20-30 % lebih banyak dari susu sapi. Kegunaan laktosa bagi
bayi yaitu untuk :
a)
Pertumbuhan otak. Salah
satu produk dari laktosa yaitu galaktosa. Ini penting bagi jaringan otak yang
sedang tumbuh.
b)
Meningkatkan penyerapan kalsium yang sangat penting
untuk pertumbuhan tulang.
c)
Meningkatkan pertumbuhan
bakteri usus yang baik, yaitu Lactobacillus
Bifidus.
d)
Laktosa oleh fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Adanya
asam laktat ini memberikan suasana asam di dalam usus bayi. Dengan suasana asam
di dalam usus akan memberikan beberapa keuntungan, diantaranya menghambat
pertumbuhan bakteri yang berbahaya.
2)
Protein
Air
Susu Ibu mengandung protein berguna untuk membantu pertumbuhan bayi. ASI
mengandung beberapa macam protein yaitu :
a)
Whey atau Kasein
Whey atau Kasein adalah protein yang
halus, lembut, dan mudah dicerna.Kasein adalah protein yang berbentuk kasar,
bergumpal, dan sukar dicerna oleh usus bayi.
b)
Taurin
Taurin
adalah protein otak yang di perlukan untuk pertumbuhan otak, susunan
saraf, juga penting untuk pertumbuhan retina.
c)
Lactoferrin
Laktoferrin
bertindak sebagai bakteri dalam usus. Laktoferrin akan membiarkan bakteri usus
yang baik, yang menghasilkan vitamin, untuk tumbuh, sedangkan bakteri yang
jahat, yang akan menyebabkan penyakit, dihancurkan.
d)
Lysosyme
Lysosyme adalah suatu kelompok antibiotik alami di dalam ASI. Suatu protein special yang akan menghancurkan bakteri berbahaya.
Lysosyme adalah suatu kelompok antibiotik alami di dalam ASI. Suatu protein special yang akan menghancurkan bakteri berbahaya.
3)
Lemak ASI
Lemak ASImengandung
jumlah lemak sehat yang tepat secara proporsional. Lemak ASI mudah dicerna
dan diserap.ASI mengandung enzyme
lipase pencerna lemak, sehingga hanya sedikit lemak ASI yang tidak
diserap oleh usus bayi. .
4.
Manfaat Pemberian ASI
a.
Manfaat bagi bayi
Beberapa
manfaat pemberian ASI yang diperoleh bayi antara lain :
1)
Sebagai nutrisi
ASI
merupakan sumber gizi yang ideal dengan komposisi yang seimbang dan di
sesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya.ASI adalah makanan
yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan melaksanakan
tatalaksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan
cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai usia 6 bulan. Setelah 6
bulan, bayi harus diberi makanan padat tambahan, tetapi ASI masih dapat
diteruskan sampai usia dua tahun atau lebih.
2) Meningkatkan daya tahan
tubuh bayi
Kolostrum
mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang (mature). Zat kekebalan yang terdapat
pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari penyakit diare. Selain itu,
ASI juga akan menurunkan kemungkinan bayi terkena berbagai penyakit
infeksi seperti telinga, batuk, dan penyakit alergi.
b.
Manfaat bagi ibu
Beberapa manfaat pemberian ASI yang diperoleh ibu antara lain :
1) Mengurangi perdarahan
setelah melahirkan. Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan maka kemungkinan
terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post partum) akan berkurang. Hal ini karena pada ibu menyusui
terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga untuk konstriksi
atau penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti.Hal
ini menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan.
2)
Mengurangi terjadi anemia. Karena menyusui dapat mengurangi
perdarahan, maka dapat mengurangi kemungkinan terjadinya anemia pada ibu.
3)
Menjarangkan
kehamilan.Menyusui merupakan kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup berhasil.
4)
Mengecilkan rahim. Kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat
akan sangat membantu rahim kembalike ukuran sebelum hamil. Proses pengecilan
ini akan lebih cepat dibandingkan padaibu yang tidak menyusui.
5)
Mengurangi kemungkinan menderita kanker. Pada ibu yang memberikan
ASI eksklusif, umumnya kemungkinan menderita kanker payudara dan
ovarium berkurang.
5.
Definisi pemberian makanan tambahan
Pemberian
makanan tambahan berarti memberi makanan selain ASI dan PASI. Makanan lain ini
disebut makanan tambahan.
6.
Tujuan pemberian makanan tambahan
Tujuan pemberian makan pada bayi atau
anak mempunyai suatu tujuan, yaitu :
a.
Memenuhi kebutuhan zat makanan yang kuat untuk keperluan
hidup, memelihara kesehatan dan untuk aktivitas sehari-hari.
b.
Menunjang tercapainya tumbuh kembang yang optimal.
c.
Mendidik anak supaya terbina selera dan kebiasaan makan yang
sehat, memilih dan menyukai makanan sesuai dengan keperluan anak.
7.
Jenis-jenis makanan tambahan
Berikut jenis-jenis
makanan tambahan :
a.
Makanan pendamping cair Seperti sari buah.
b.
Makanan lunak atau lembek Seperti bubur susu, nasi tim
saring, dan lain-lain.
c.
Makanan padat Seperti nasi tim, nasi dan makanan orang dewasa
lainnya.
Persyaratan makanan
bayi dan anak harus memenuhi persyaratan, yaitu :
1)
Kebutuhan zat-zat makanan terpenuhi secara adekuat, yaitu
tidak belebihan atau kekurangan.
2)
Mudah diterima dan dicerna.
3)
Jenis makanan dan cara pemberian sesuai dengan pemberian
kebiasaan makan yang sehat.
4)
Terjamin kebersihannya dan bebas dari bibit penyakit.
5)
Susunan menu seimbang (berasal dari 10 – 15 %
dari protein, 25 – 35% dari lemak dan 50 – 65 % dari karbohidrat).
8.
Waktu tanda bahwa seorang bayi sudah siap untuk menerima
makanan tambahan adalah bahwa bayi tersebut :
a.
Sekurangnya berusia 4 bulan karena pada umur 4 bulan
tersebut, bayi sudah mengeluarkan air liur lebih banyak dan produksi enzim
amilase lebih banyak pula, sehingga bayi siap menerima makanan lain selain
ASI.
b.
Kebutuhan energi bayi untuk pertumbuhan dan aktivitas
makin bertambah, sedangkan produksi ASI relatif tetap, sehingga diperlukan
tambahan makanan selain ASI yang dimulai pada umur 4 – 6 bulan
untuk membiasakan bayi makan makanan lain selain ASI.
c.
Bayi sudah bisa menutup mulutnya dengan rapat dan
menggerakkan lidah ke muka belakang. Apabila makanan disuapkan ke dalam
mulutnya, maka lidah bayi dapat memindahkan makanan tersebut ke arah belakang
dan menelannya. Pada saat inilah bayi diberikan kesempatan mempraktekkan
kepandaiannya tersebut dengan memberikan makanan lunak. Dengan bertambah
matangnya kemampuan oromotor, bayi umur 6 – 9 bulan mulai belajar
mengunyah dengan menggerakkan rahang ke atas dan ke bawah, sehingga dapat
diberikan makanan yang lebih kasar. Demikian pula dengan kemampuan motorik
halus dimana pada awalnya bayi memegang dengan kelima jari tangannya kemudian
pada umur 9 bulan bayi sudah dapat menjimpit, maka untuk mengembangkan
kemampuan tersebut, bayi diberikan makanan yang dapat di pegang sendiri atau
makanan kecil yang dapat dijimpit. Pada umur 6 – 7 bulan bayi sudah dapat duduk,
sehingga dapat diberikan makanan dalam posisi duduk. Pada umur 6 – 9 bulan
bibir bayi sudah dapat mengatup rapat pada cangkir, sehingga dapat di latih
minum memakai cangkir atau gelas yang dipegang oleh orang lain. Pada tahun
kedua, anak belajar makan sendiri dengan menggunakan sendok. Terlalu lambat
mulai memberikan makanan tambahan juga kurang baik karena dapat menyebabkan
bayi kurang gizi dan menghambat ketrampilan makan bayi.
9.
Pemberian Makanan Tambahan Dini
a.
Definisi Pemberian makanan tambahan dini adalah memberikan
makanan lain selain ASI dan PASI sebelum bayi berusia 4 bulan atau 6 bulan.
b.
Dampak pemberian makanan tambahan dini dapat
mengakibatkan :
1)
Bayi lebih sering menderita diare karena pembentukan zat anti
oleh usus bayi yang belum sempurna.
2)
Bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu. Keadaan ini
terjadi akibat usus bayi masih permeabel, sehingga mudah dilalui
oleh protein asing.
3)
Terjadi malnutrisi atau gangguan pertumbuhan anak karena zat
essensial yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang
akan mengakibatkan penimbunan zat gizi sehingga menimbulkan keadaan obesitas
dan dapat merupakan racun bagi tubuh.
4)
Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah kenyang dengan
makanan tambahan tadi, maka frekuensi menyusut menjadi lebih jarang,
akibatnya dapat menurunkan produksi ASI dan bayi kekurangan zat – zat yang
dibutuhkan sebelum usia 4 bulan atau 6 bulan yang tidak dapat di berikan oleh
makanan lain.
5)
Tingginya solute load dari makanan tambahan yang
diberikan, sehingga dapat menimbulkan hiperosmolaritas yang meningkatkan beban
ginjal.
6)
Menurunkan daya tahan tubuh bayi karena bayi kekurangan
protein yang sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
7)
Terjadi obstruksi usus karena usus bayi belum mampu melakukan
gerak peristaltik secara sempurna.
10.
Pertumbuhan
a.
Definisi pertumbuhan (growth)
Pertumbuhan
ialah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau
keseluruhan.Jadi bersifat kuantitatif sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan
mempergunakan satuan panjang dan satuan berat.
b.
Hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan
pertumbuhan berat badan bayi.
Pemberian makanan tambahan dini
mengandung energi berlebihan, zat gizi essensial yang diberikan secara
berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan
zat gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan obesitas (gangguan pertumbuhan
berat badan) dan dapat menjadi racun bagi tubuh. Gangguan pertumbuhan pada
awal masa kehidupan balita, antara lain disebabkan kekurangan gizi sejak bayi
dalam kandungan, pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat,
makanan tambahan tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama
mineral besi, perawatan bayi yang kurang memadai dan ibu tidak berhasil
memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Menurut Cesilia M. Reveriani,
pakar gizi anak Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menguraikan hasil
survey penggunaan makanan pendamping ASI sekitar 49% bayi sebelum usia 4 bulan
sudah diberi susu formula, 45,1% makanan cair selain susu formula dan 50%
makanan padat.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A.
Hasil
Penelitian
Pada
bab ini disajikan mengenai hasil pengumpulan data dari lembaran quesioner yang
di peroleh pada tanggal 10 Febuari 2012 di BPS Haryanti Amd.keb didesa Gembong
Kulon, Kec.Talang, Kab.Tegal. hasil penelitian meliputi data umum dan data
khusus. Data – data hasil akan di sajikan dalam bentuk table frekuensi
(prosentase) dan di berikan uraian secara diskripsi.
1. Gambaran umum lokasi penelitian
Lokasi penelitian adalah di BPS
Haryanti Amd.keb didesa Gembong Kulon, Kec.Talang, Kab.Tegal dan berada di
bawah naungan puskesmas Talang. Tempat ini melayani pemeriksaan kehamilan,
Keluarga Berencana, imunisasi, pengobatan setiap hari dari pukul 06.00 WIB
sampai dengan 08.00 WIB dan pada pukul 16.00 WIB sampai dengan 20.30 WIB serta
pertolongan persalinan normal selama 24 jam. Jumlah kunjungan rata – rata 40
orang perhari.Tenaga kerja di BPS ini 2 orang bidan, 1 orang pembantu umum.
2. Data umum
Penyajian data umum meliputi jenis
kelamin bayi, usia ibu, pemberian ASI ekslusif, alasan pemberian susu formula
sebelum usia 4 bulan, jenis makanan tamabahan dini pertama kali dan alasan
pemberian makanan tambahan.
a.
Jenis
kelamin bayi
Table 3.1distribusi frekuensi
jenis kelamin bayi
|
No.
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
1.
|
Laki – laki
|
17
|
56.7
|
|
2.
|
Perempuan
|
13
|
43,3
|
|
|
Total
|
30
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat di ketahui bahwa
sebagian besar responden mempunyai bayi laki – laki sebanyak 17 bayi (56,7%).
b.
Usia
ibu
Table 3.2 distribusi frekuensi
usia responden di BPS. Haryanti Amd.keb, alamat desa Gembong Kulon, pada
tanggal 10 januari 2012
|
No.
|
Usia ibu
|
Jumlah
|
Presentasi
|
|
1.
|
< 20 tahun
|
0
|
0
|
|
2.
|
20 – 30 tahun
|
26
|
86,7
|
|
3.
|
> 30 tahun
|
4
|
13,3
|
|
|
Total
|
30
|
100
|
Berdasarkan distribusi frekuensi
usia responden bahwa sebagian besar responden ibu pada usia 20 – 30 tahun
(86,7).
c.
Pemberian
Asi Ekslusif
Tabel 3.3 Distributor frekuensi pemberian asi
ekslusif di BPS. Haryanti Amd.keb
|
No.
|
Pemberian Asi Ekslusif
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1.
|
Asi Ekslusif
|
7
|
23,3
|
|
2.
|
Tidak Asi Ekslusif
|
27
|
76,7
|
|
|
Total
|
30
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat
diketahui bahwa sebagian besar responden tidak memberikan asi ekslusif sebanyak
23 orang (76,7%)
d.
Macam
– macam Asi Ekslusif
Table 3.4 Distribusi frekuensi macam – macam asi tidak
ekslusif di BPS. Haryanti
|
No.
|
Macam – macam asi ekslusif
|
jumlah
|
presentase
|
|
1.
|
Ekslusif
|
1
|
4,3
|
|
2.
|
PASI
|
7
|
3,0
|
|
3.
|
ASI + PASI
|
9
|
39,1
|
|
4.
|
ASI + PASI + PMT dini
|
1
|
4,3
|
|
5.
|
PASI + PMT +dini
|
5
|
21,9
|
|
|
Total
|
23
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden yang tidak memberikan Asi Ekslusif yaitu sudah diberiakan ASI + PASI +PMT dini
sebanyak 9 orang (39.1 %).
e.
Alasan
pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan.
Berdasarkan table 3.4 diatas
dapat diketahui bahwa dari 23 bayi yang tidak mendapatkan Asi Ekslusif, 18 bayi
diantaranya sudah mendapat susu formula (PASI) dengan alasan sebagai berikut :
Table 3.5
|
No.
|
Alasan
pemberian susu formula sebelum usia 4 bulan
|
Jumlah
|
frekuensi
|
|
1.
|
Asi tidak keluar
|
1
|
5,5
|
|
2.
|
Asi tidak lancar
|
7
|
38,9
|
|
3.
|
Bayi masih rewel
setelah disusui
|
7
|
38,9
|
|
4.
|
Ibu sibuk total
|
3
|
16,7
|
|
|
total
|
18
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa
sebagian responden memberikan susu formula sebelum usia 4 bulan karena asi
tidak lancer dan bayi masih rewel setelan disusui sebanyak 7 orang (38,9%).
f.
Pemberian
makanan tambahan dini
Berdasarkan table 3.4 diatas
dapat diketahui bahwa dari 23 bayi yang tidak mendapatkan Asi Ekslusif, 15 bayi
diantaranya sudah mendapat makanan tambahan dini dengan alasan dan jenis
makanan sebagai berikut :
1)
Jenis
makanan tambahan dini pertama kali
Table 3.6 distribusi frekuensi jenis makanan tambahan
dini pertama kali diberikan di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari
2012.
|
No.
|
Jenis makanan tambahan dini pertama kali
|
Jumlah
|
prosentase
|
|
1.
|
Bubur susu
|
10
|
66,7
|
|
2.
|
Pisang kerok
|
5
|
33,3
|
|
3.
|
Nasi tim
|
0
|
0
|
|
4.
|
Nasi
|
0
|
0
|
|
|
Total
|
15
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden
memberikan bubur susu sebelum bayi berusia 4 bulan sebanyak 20 orang (66,7%).
g.
Alasan
pemberian makanan tambahan dini
Table 3.7 distribusi frekuensi alasan pemberian
makanan tambahan dini di BPS Haryanti Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.
|
No.
|
Alasan pemberian makanan tambahan dini
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1.
|
Tidak
rewel
|
1
|
6,7
|
|
2.
|
Cepet
gemuk
|
14
|
93,3
|
|
3.
|
tradisi
|
0
|
0
|
|
|
total
|
15
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa sebagian
besar responden memberikan makanan tambahan dini supaya cepat gemuk sebanyak 14
orang (93,3%).
3. Data khusus
Peyajian
data khusus meliputi variabel-variabel yang di ukur yaitu variabel bebas adalah pemberian makanan
tambahan dini dan variabel tergatung adalah pertumbuhan berat bada bayi.
a.
Pemberian
makanan tambahan dini
Tabel 3.8
|
No.
|
Pemberian
makanan tambahan dini
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1.
|
Pemberian
makanan tambahan sesuai usia
|
15
|
50
|
|
2.
|
Pemberian
makanan tambahan tidak sesuai usia
|
15
|
50
|
|
|
Total
|
30
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa usia
pemberikan makanan tambahan pertama
kali besarnya saa antara lebih dari 4 bulan dan kurang dari 4 bulan sebanyak 15
orang (50%).
b.
Pertumbuhan berat badan bayi
Table 3.9 Distribusi frekuensi
pertumbuhan berat badan bayi di BPS Haryanti
Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.
|
No.
|
Pertumbuhan berat badan bayi
|
Jumlah
|
Prosentase
|
|
1.
|
Normal
|
14
|
46,7
|
|
2.
|
Tidak normal
|
16
|
53,3
|
|
|
Total
|
30
|
100
|
Berdasarkan
tabel di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan berat badan bayi sebagian
besar responden tidak normal yaitu sebanyak 16 orang (53,3%).
c.
Hubungan antara
pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat badan bayi di BPS Haryanti
Amd.keb pada tanggal 10 Februari 2012.
Table
3.10
|
No.
|
Pertumbuhan
pemberian makanan tambahan dini
|
Berat
badan normal
|
Berat
badan tidak normal
|
Total
|
|||
|
n
|
%
|
n
|
%
|
n
|
%
|
||
|
1.
|
PMT
sesuai usia
|
11
|
36,7
|
4
|
13,3
|
15
|
50
|
|
2.
|
PMT
dini
|
3
|
10
|
12
|
40
|
15
|
50
|
|
|
Total
|
14
|
46,7
|
16
|
53,3
|
30
|
100
|
Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa
pemberikan makanan tambahan dini berhubungan dengan pertumbuhan berat badan
bayi.Terlihat bahwa dari 15 responden yang
memberikan makanan tambahandini dengan
Sedangkan bayi yang diberi makanan tambahan sesuai
usia dengan pertumbuhan berat badan normal sebanyak 11 bayi (36,7%).
B.
Pembahasan
1.
Identifikasi pemberian makanan tambahan
Dari 30 bayi, 15 bayi mendapatkan
makanan tambahan dini, 10 bayi mendapat bubur susu, sebagian makanan tambahan
pertama yang diterima, sedangkan 4 lainnya mendapatkan pisang kerok. Alasan
terbanyak bayi-bayi tersebut diberi
makanan tambahan dini supaya cepat gemuk yaitu 14 bayi, sisanya 1 bayi supaya
tidak rewel. ASI merupakan makanan alami pertama untuk bayi dan harus diberikan
tanpa makanan tambahan sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin
sampai usia 6 bulan, karena ASI terus memberikan faktor-faktor anti infeksi
yang tidak dapat diberikan oleh makanan lain.
Dari 30 bayi hanya 7 bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif, sedangkan 23 lainnya tidak. Mereka sudah mendapatkan
susu formula dan makanan tambahan sebelum usia 4 bulan. Banyak alasan mengapa
para ibu tidak memberikan ASI eksklusif antara lain 7 orang karena ASI tidak
lancar, 7 orang mengatakan bayi masih rewel setelah disusui, 3 orang karena
sibuk, dan 1 orang karena ASI tidak keluar, serta 5 orang lainnya sudah
memberikan makanan tambahan. Padahal sebagian besar responden pada dasarnya
bisa memberikan ASI eksklusif asalkan mereka telaten dan sabar dalam memberikan
ASI kepada bayinya.
2.
Identifikasi pertumbuhan berat badan bayi usia 4
bulan
Sebanyak 16 bayi dari 30 bayi mengalami
pertumbuhan berat badan tidak normal, sedangkan 14 bayi lainnya normal. Dalam
KMS, bayi yang berusia 4 bulan hendaknya memiliki berat badan antara 5200 gram
sampai 7400 gram. Diluar itu pertumbuhan berat badan bayidapat digolongkan
tidak norma. Banyak sebab yang dapat mempengaruhi pertumbuhan berat badan pada
awal masa kehidupan balita antara lain kekurangan gizi sejak bayi dalam
kandungan, pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat, makanan
tambahan tidak cukup mengandung energi dan gizi mikro terutama mineral, besi
dan seng, perawatan bayi yang kurang memadai dan tidak berhasil memberikan ASI
eksklusif kepada bayinya.
3.
Hubungan antara makanan tambahan dini dengan
pertumbuhan berat badan bayi
Dari hasil analisa data dapat diketahui
bahwa 15 bayi yang mendapatkan makanan tambahan dini 12 bayi (40%) diantaranya
mengalami pertumbuhan berat badan tidak normal. Sedangkan dari 15 bayi yang
mendapatkan makanan tambahan sesuai usia hanya 4 bayi (13,3%) yang mengalami
pertumbuhan berat badan normal.
Pemberian makanan tambahan dini di
Indonesia terutama di daerah pedesaan sering kita jumpai. Bayi-bayi yang
mendapat makanan tambahan dini memiliki kecenderungan lebih besar mengalami
pertumbuhan berat badan tidak normal daripada bayi-bayi mendapat makanan
tambahan sesuai usia, karena pemberian makanan tambahan dini mengalami energi
berlebihan, zat gizi essesial yang diberikan secara berlebihan akan
mengakibatkan penimbunan gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan obesitas
dan dapat merupakan racun bagi tubuh yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan bayi
tersebut. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah termasuk rasa tau etnik,
jenis kelamin, genetic, penyakit, social ekonomi dan lingkungan pengasuhan.
Semua orang tua harus diberitahu mengenai hubungan
antara pemberian makanan tambahan dini dengan pertumbuhan berat bdan bayi.Bayi
gemuk terlebih obesitas tidak selamanya dapat diartikan sehat.Oleh sebab itu
hendaknya pada orang tua harus memberikan nutrisi kepada bayinya sesuai dengan
jadwal. Karebna pembarian nutrisi kepada bayi harus di berikan secara tepat
meliputi kapan memulai pemberian, apa yang harus diberikan, berapa yang di
berikan dan frekuensi pemberian untuk menjaga kesehatan bayi. Sehingga saat
mulai diberikan nutrisi harus disesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan
bayi dan kebutuhannya.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini diuraikan mengenai simpulan dan saran hasil
penelitian dan merupakan jawaban masalah
dan tujuan penelitian.
A.
Simpulan
Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa :
1. Waktu
yang tepat pemberian makanan tambahan pada bayi Sekurangnya berusia 4 bulan
karena pada umur 4 bulan tersebut, bayi sudah mengeluarkan air liur lebih
banyak dan produksi enzim amilase lebih banyak pula, sehingga bayi siap
menerima makanan lain selain ASI.
2. Akibat
bila pemberian makanan tambahan diberikan pada bayi sebelum usia 4 – 6 bulan
yaitu :
a.
Bayi lebih sering menderita diare
karena pembentukan zat anti oleh usus bayi yang belum sempurna.
b.
Bayi mudah alergi terhadap zat makanan
tertentu. Keadaan ini terjadi akibat usus bayi masih permeabel, sehingga mudah
dilalui oleh protein asing.
c.
Terjadi malnutrisi atau gangguan
pertumbuhan anak karena zat essensial yang diberikan secara berlebihan untuk
jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan penimbunan zat gizi sehingga
menimbulkan keadaan obesitas dan dapat merupakan racun bagi tubuh.
d.
Produksi ASI menurun. Karena bayi sudah
kenyang dengan makanan tambahan tadi, maka frekuensi menyusut menjadi
lebih jarang, akibatnya dapat menurunkan produksi ASI dan bayi kekurangan
zat – zat yang dibutuhkan sebelum usia 4 bulan atau 6 bulan yang tidak
dapat di berikan oleh makanan lain.
e.
Tingginya solute load dari makanan
tambahan yang diberikan, sehingga dapat menimbulkan hiperosmolaritas yang
meningkatkan beban ginjal.
f.
Menurunkan daya tahan tubuh bayi karena
bayi kekurangan protein yang sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
g.
Terjadi obstruksi usus karena usus bayi
belum mampu melakukan gerak peristaltik secara sempurna.
3.
Ada, karena jika pemberian makanan
tambahan bayi terlalu dini dan mengandung energi berlebihan, zat gizi essensial
yang diberikan secara berlebihan untuk jangka waktu yang panjang akan
mengakibatkan penimbunan zat gizi tersebut sehingga menimbulkan keadaan
obesitas (gangguan pertumbuhan berat badan) dan dapat menjadi racun bagi tubuh.
4.
Frekuensi pemberian makanan tambahan
pada bayi sebaiknya disesuaikan dengan usia bayi. Anda dapat melihat secara
kasat mata bagaimana anak yang sudah bisa mengkonsumsi makanan tambahan yaitu sebagai
berikut :
a.
Bayi sudah bisa menutup mulutnya dengan
rapat dan menggerakkan lidah ke muka belakang. Kepandaiannya tersebut dengan
memberikan makanan lunak.
b.
Dengan bertambah matangnya
kemampuan oromotor, bayi umur 6 – 9 bulan mulai belajar mengunyah dengan
menggerakkan rahang ke atas dan ke bawah, sehingga dapat diberikan makanan yang
lebih kasar.
c.
Pada umur 9 bulan bayi sudah dapat
menjimpit, maka untuk mengembangkan kemampuan tersebut, bayi diberikan makanan
yang dapat di pegang sendiri atau makanan kecil yang dapat dijimpit.
5.
Makanan tambahan yang baik pagi masa
pertumbuhan pada bayi :
a.
Makanan pendamping cair Seperti sari buah.
b.
Makanan lunak atau lembek Seperti bubur susu, nasi tim
saring, dan lain-lain.
c.
Makanan padat Seperti nasi tim, nasi dan makanan orang dewasa
lainnya.
Persyaratan makanan
bayi dan anak harus memenuhi persyaratan, yaitu :
1)
Kebutuhan zat-zat makanan terpenuhi
secara adekuat, yaitu tidak belebihan atau kekurangan.
2)
Mudah diterima dan dicerna.
3)
Jenis makanan dan cara pemberian sesuai
dengan pemberian kebiasaan makan yang sehat.
4)
Terjamin kebersihannya dan bebas dari
bibit penyakit.
5)
Susunan menu seimbang (berasal dari 10
– 15 % dari protein, 25 – 35% dari lemak dan 50 – 65 % dari karbohidrat).
B.
Saran
Mempertimbangkan hasil penelitian
yang telah dilakukan tentang hubungan antara makanan tambahan dini dengan
pertumbuhan berat badan bayi maka perlu ditingkatkan :
1.
Dalam memberikan asuhan hendaknya
perlu diperhatikan kebutuhan nutrisi bayi sejak bayi dalam kandungan hingga
bayi lahir, tumbuh dan berkembang. Sehingga pertumbuhan berat badannya
senantiasa dalam batas normal.
2.
Petugas yang bersangkutan hendaknya
memberikan saran kepada orang tua yang akan atau telah memiliki bayi mengenai
kebutuhan nutrisi serta tumbuh kembang bayi dan balita. Antara lain tentang ASI
eksklusif dan jadwal pemberian makanan, juga cara memantau pertumbuhan berat
badan bayi secara sederhana melalui KMS (Kartu Menuju Sehat).
3.
Ibu hamil dan menyusui hendaknya
lebih meningkatkan gizi yang dikonsumsinya agar produk ASI-nya berkulitas
sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi terpenuhi. Belajar
memantau pertumbuhan berat badan bayinya secara sederhana melalui KMS
(Kartu Menuju Sehat).
4.
Ibu hamil dan menyusui hendaknya
lebih meningkatkan gizi yang dikonsumsinya agar produk ASI-nya berkualitas
sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi terpenuhi. Belajar
memantau pertumbuhan berat badan bayinya secara sederhana melalui KMS
(Kartu Menuju Sehat).
5.
Perlunya dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang hubungan antara pemberian makanan tambahan dini dengan
pertumbuhan berat badan bayi agar hasil penelitian lebih baik, teoriset dan metodologi penelitian harus diperdalam dan waktu
pelaksanaan penelitian perlu sedikit diperpanjang.
No comments:
Post a Comment